Mengunjungi Desa Budaya Gamcheon Culture Village

Mengunjungi Desa Budaya Gamcheon Culture Village Desa Gamcheon tadinya adalah kampung yang kumuh di Busan, Korea Selatan. Sudah kumuh, lokasinya pun sulit: di lereng gunung yang curam. Sampai kemudian desa ini berbenah, ditata, diberdayakan.
Jadilah Gamcheon Culture Village sebagai salah satu tujuan wisata yang ramai, bahkan dikenal dengan sebutan “Machu Picchu-nya Busan”.
Mengisi hari Minggu di Busan, saya mengunjungi desa budaya Gamcheon selepas siang tadi. Luar biasa. Rumah-rumah yang dicat berwarna-warni, dinding-dindingnya dihiasi beragam karya seni seperti mural. Jalan-jalan dan lorongnya yang sempit dipenuhi toko cenderamata, galeri seni, dan tempat makan.
Desa Budaya Gamcheon Culture Village

Dari sebuah kafe di ketinggian, saya dan Ibu Negara menikmati pemandangan atap-atap bangunan yang seolah bertumpuk seraya menikmati makanan khas Korea Selatan.
Penataan Desa Gamcheon mengingatkan saya model serupa di Tanah Air seperti yang ada di Klaten, Yogyakarta, atau di Nglanggeran, Gunung Kidul. Gamcheon bisa menjadi inspirasi bagi kepala daerah kita, bagi kampung-kampung kita, bagi desa-desa kita, bahwa yang kumuh pun kalau ditata dengan baik, bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.

Kata Bijak Para Presiden:“Bagaimana hakekatnya budaya atau cultuur yang didatangkan imperialisme modern itu? Stockvis menyebutnya rakyat katulistiwa yang korat-karit dan diperlakukan tidak semena-mena.”Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia Pertama--


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel